lingkungan konseling
4 LINGKUP/BIDANG KONSELING KEBIDANAN
1. Konseling pada anak-anak
Seorang anak membutuhkan bimbingan dan dukungan moral dan fisik dari keluarga yang juga akan mengatur cara pandang mereka. Karenanya hubungan anak dengan anak lainnya didasarkan pada keyakinan, presfektif, aturan dan nilai keluarga.memahami kebutuhan anak, sangat diperlukan dalam membantu menyikap perilaku emosional mereka. Anak-anak perlu merasa dihargai dan bangga terhadap diri sendiri. Jadi peran kita sebagi bidan terhadap konseling anak-anak adalah memahami bagaimana pola pikir mereka yang belum terlalu luas dan mengajari mereka tentang hal-hal kecil yang mana yang baik dan mana yang tidak baik. Karena diusia anak-anak terkadang mereka cepat menangkap apa yang didengar oleh mereka.
2. Konseling pada remaja
Remaja merupakan aset bangsa yang sangat menentukan bagaimana kualitas bangsa dimasa mendatang baik kualitas kepribadian, kesehatan, maupun pendidikannya. Saat ini masalah pendidikan dan kesehatan remaja menjadi topik pembicaraan diberbagai kalangan.
Bidan sebagai tenaga kesehatan dan anggota masyarakat, bertanggungjawab terhadap permasalaha yang diadapi remaja. Untuk itu, peranan bidan sebagai konselor akan sangat membantu dalam penangan masalah remaja. Menjadi tugas bidan untuk memberikan bimbingan dan konseling sehingga dapat membantu meningkatkan derajat reproduksi remaja.
Topik konseling remaja yang dapat diberikan bidan meliputi hal-hal
sebagai berikut :
1. Remaja dan kesehatan reproduksi remaja
2. Seksualitas
3. Pengenalan organ reproduksi laki-laki dan perempuan
4. Proses terjadinya kehamilan, kehamilan yang tidak dikehendaki, dan aborsi yang tidak aman.
5. IMS dan HIV/AIDS
6. Isu gender
7. Narkoba dan zat adiktif
8. Hubungan dengan pasangan sebelum dan sesudah menikah
9. Kekerasan pada remaja
Bidan sebagi konselor melaksanakan konseling terhadap remaja yang bermasalah juga kepada keluarga sebagai orang tua, bertujuan antara lain:
1. Mencegah upaya abortus provokatus
2. Mendorong ibu ( remaja yang hamil ) untuk mencari pelayanan kesehatan
3. Mempersiapkan kelahiran bayi secara normal
4. Mempersiapkan ibu dan keluarga agar menerima kelahiran bayi
5. Pada orang tua remaja, mendorong untuk diresmikannya pernikahan putra putrinya
3 . Konseling pada ibu atau calon orangtua
Aktivitas konseling calon orangtua/menjad orangtua membantu pemahan diri untuk menjadi orangtua baik sebagai ayah maupun sebagai ibu. Ketika masuk masa transisi terjadi suatu gejolak yang dialami oleh individu walaupun sifatnya hanya sementara. Pada saat itu, individu merasakan adanya masalah yang harus dihadapi yang merupakan upaya adaptasi pada situasi yang alami.
Salah satu peran bidan ketika menghadapi klien adalah melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling kebidanan. Untuk memperjelas arah pembelajaran konseling kebidanan pada orangtua, perlu ada pemahaman terlebih dahulu tentang bagaimana menjadi orangtua, tanggungjawab suami sebagi kepala keluarga dan sebagai ayah dan tanggungjawab perempuan sebagi ibu dalam keluarga.
Masalah yang sering dihadapi keluarga antara lain :
1. Kesehatan anggota keluarga, meliputi kondisi kesehatan ayah/suami,ibu/istri dan anak.
2. Pendidikan, meliputi pendidikan formal dan non formal bagi anggota keluarga. Latar belakang pendidikan ayah dan ibu sangat berpengaruh terhadap pola pikir keluarga dalam menentukan pendidikan pada anaknya.
3. Hubungan antara dan inter keluarga, sangat berpengaruh terhadap kehidupan keluarga terutama hubungan ibu dan ayah yang biasanya menjadi model bagi anak-anaknya. Hubungan ini menjadi pola perilaku anak dimasyarakat dan diluar keluarga. Hungan keluarga menjadi kurang harmonis karena ketidak samaan pandangan.
4. Psikososial, masalah psikososial biasanya terjadi akibat terciptanya adaptasi dimasyarakat, terutama terhadap norma dan tata nilai yang berlaku dalam masyakat.
Bidan dapat memberi layanan konseling kebidanan pada calon pengantin, maupun pasangan baru yang akan masuk dalam kehidupan keluarga.
4 . Konseling masa antenatal atau konseling pada ibu hamil
Konseling pada masa antenatal terutama ditujukan pada ibu dengan kehamilan pertama, dalam hal ini bidan perlu menginformasikan beberapa hal:
Perubahan pada trisemester pertama:
1. Perubahan pada fisik pada ibu hamil :
a. Mual yang dapat disertai muntah
b. Enggan makan dan mengidam
c. Perubahan payudara
d. Keletihan dan rasa mengantuk
e. Sering berkemih
f. Rasa perut panas, gangguan pencernaan, kembung.
2. Perubahan psikologis pada ibu hamil
a. Merasa tidak nyaman
b. Muncul penolakan, kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan
c. Perasaan tidak menentu yang tidak diketahui penyebabnya
Perubahan pada trisemester kedua:
1. Perubahan fisik
a. Ibu masih merasa letih
b. Frekuensi sering berkemih mulai berkurang
c. Berkurangnya mual dan muntah
d. Kadang-kadang sembelit
e. Nafsu makan bertambah dll
2. Perubahan psikologis
a. Ibu sudah merasa sehat
b. Ibu sudah bisa menerima kehamilannya
c. Merasakan pergerakkan janin
d. Merasa terlepas dari ketidak nyamanan dan kekhawtiran
Perubahan pada trisemester ketiga:
1. Perubahan fisik
a. Sesak nafas
b. Nyeri punggung
c. Nyeri tekan payudara
d. Sering berkemih
e. Konstitasi dll
2. Perubahan psikologis
a. Rasa tidak nyaman timbul lagi, merasa dirinya jelek, aneh dan tidak menarik
b. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan
c. Merasa sedih karena akan terpisah dengan bayinya
d. Merasa kehilangan perhatian
Bidan sebagi konselor dalam konseling pada ibu hamil harus memperhatikan umur kehamilan dan keadaan ibu pada saat itu. Pada tahap awal konseling, selalu diadakan hubungan yang mengenakan seperti pelaksanaan konseling pada umumnya.
5. Konseling pada ibu bersalin ( melahirkan )
Konseling pada ibu melahirkan/pemberian bantuan pada ibu yang melahirkan dengan kegiatan bimbingan proses melahirkan. Tujuan aktivitas ini untuk kesejahteraan ibu dan proses kelahiran dapat berjalan dengan semestinya.
Keberhasilan proses persalinan sampai terjadi kelahiran bayi ditentukan oleh empat faktor yang mencakup : (1). Psikis, adalah keberadaan mental dan emosional ibu. (2). Power, merupakan kekuatan otot-otot uterus dan otot abdomen. (3). Passegeway, terdiri atas vagina, introitus vagina, dan tulang panggung. (4). Passenger, merupakan hasil konsepsi, janin, plasenta, dan cairan amnion yang memberi pengaruh terhadap persalinan.
Konseling pada ibu bersalin dapat dibagi menjadi beberapa tahap yaitu tahap 1, tahap 2, tahap 3, tahap 4.
6. Konseling pada ibu nifas
Bantuan konseling pada ibu nifas, meliputi : adaptasi pada masa nifas, teknik menyusui dan perawatan payudara atau manajemen laktasi. Pemahaman klien terhadap keadaan pada dirinyaperlu memperoleh batuan, adanya perasaan nyerisetelah bersalin, engorgement, proses involusi, proses lokhea, laktasi. Pelaksanaan asuhan kebidanan dengan rawat gabung (rooming in) yang artinya pelaksanaan rawat gabung ibu dan bayainya. Dalam keadaan tersebut, ibu diajak untuk mulai memperhatikan bayinya dan mulai melakukan kedekatan antara ibu dan bayinya.dalam proses konseling, bidan sebagai konselor harus mampu mendengarkan klien dan melaksanakan bimbingan dan pelatihan kepada ibu dalam rangka memandirikan ibu dalam rangka merawat dan memenuhi kebutuhan bayinya.bidan memeriksa keadaan pundus uteri dengan penuh kelembutan perabaan serta melakukan komunikasi dengan klien dan menerima segala keluhan klien. Bidan membimbing klien dalam melaksanakan proses penyesuaian yang baik pada proses rawat gabung. Bidan mencontohkan cara memengang bayi dengan kasih sayang penuh.
7. Konseling keluarga berencana
konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan kb. Dengan melakukan konseling, berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihan. Pendekatan pelayanan yang digunakan adalah pendekatan secara medik, dan konseling.
Informasi awal pada saat konseling kb adalah manfaat kb terhadap kesehatan dan kesejahteraan keluarga, jenis metode dan alat kontrasepsi, efek samping dan cara penanggulangannya, komplikasi dab cara penanggulangannya.
1. Hal-hal yang dibutuhkan utntuk melakukan konseling KB yang baik terutama bagi calon klien KB baru:
a. Perlakukan klien yang baik
b. Intraksi antara petugas dan klien
c. Memberikan informasi yang baik terhadap klien
d. Hindarin pemberian informasi yang berlebihan
e. Tersedianya metode yang diingankan klien
f. Membantu klien untuk mengerti dan mengingat
2. Langkah langkah konseling KB (SATU TUJU)
Kata kunci SATU TUJU adalah:
SA: Berikan salam kepada klien secara terbuka dan sopan.
T: Tanyakan kepada klien informasi tentang dirinya
U: Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beritahu apa pilihan reproduksi yang paling mungkin, termasuk pilihan beberapa jenis kontrasepsi.
TU: Bantulah klien menentukan pilihannya
J: Jelaskan secara lengkap bagaimana menggunakan kontrasepsi pilihannya.
U: Perlunya dilakukan kunjungan ulang
8. Konseling genetik
Konseling genetik pada hakikatnya akan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kelainan pada suatu keluarga, serta memberikan gambaran dan dapat memperkirakan terulangnya suatu kelainan didalam keluarga yang sama.
Fungsi konseling genetik:
1. Funsi preventif tingkat I, iyalah memberikan informasi tentang berbagai faktor genetik yang mungkin ada.
2. Fungsi preventif tingkat II, ialah mengadakan deteksi pasangan calon suami istri yang berkaitan dengan masalah genetik, baik dalam masa pra konsepsi maupun pra kelahiran.
3. Fungsi preventif tingkat III, memberikan informasi tentang langka-langka dalam pengambilan keputusan orang tua yang memiliki anak dengan kelainan.
Cara pelaksanaan konseling genetik:
a. Mengdakan anamnesis untuk mengali masalah yang berkaitan dengan keturunan dan menyusun pedegre (genogram).
b. Mengajak pasangan untuk memahami kemungkinan terjadinya kelainan genetik atau kelainan herediter.
c. Mencari jalan keluar bersama klien dengan pasangannya dan memberikan alternatif jalan keluar.
d. Mendorong klien dan pasangannya untuk mengambil keputusan secara cepat.
e. Mambantu klien untuk melaksanakan jalan keluar yang sudah dipilih.
9. Konseling menopause
Wanita yang mengalami monopous dini memiliki gejala yang sama dengan monopous pada umumnya seperti hot flashes (perasaan hangat diseluruh tubuh yang terutama terasa pada dada dan kepala), gangguan emosi, kekeringan pada vagina, dan menurunnya keingina berhubungan seksual.
Gejala meno dan primenopouse
1. Gejala jangka pendek : vaso motorik: hot flashes, gangguan tidur, palpitasi, sakit kepala.
Perubahan psikis/gejala psikologis
Kejadian defenisi ini juga dijumpai pada laki-laki. Stres sosial juga dapat mempengaruhi persaan sejahtera seorang wanita disekitar masa menopouse dan mungkin berhubungan dengan kejadian-kejadian:
a. Kematian atau sakitnya orang tua.
b. Perpisahan atau ketidak harmonisan perkawinan.
c. Kurangnya kepuasan pada pekerjaan
d. Penambahan berat badan dan kegemukan.
2. Gejalah menegah, berubah: pemenurunnya keingina berhubungan seksual, kekeringan pada vagina, urogenital, ovarium, uterus, servik, vulva, organ lain: rambut, kulit, mulut dan hidung, mata otot dan sendi, saluran pernapasan payudara.
3. Gejala jangkaa panjang: osteoporosis, penyakit cardiovascular
10. Konseling tentang kekerasan
Perbedaan gender merupakan faktor pemicu terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan (KTP) adalah setiap tindakan yang berakibat kesensaraan atau penderitaan pada perempuan baik secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk pemaksaan atau perampasan secara sewenang-wenang baik yang terjadi didepan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi. Seringkali kekerasan terhadap perempuan terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidak adilan gender.
Hak istimewah yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai barang milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan, perempuan pun berhak memperoleh perlindungan hak asasi manusia.
Kekerasan perempuan dapat terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, noon fisik, serta psikologis atau jiwa. Kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan untuk melukai, menyiksa, menganiaya orang lain. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh pelaku atau dengan benda lain.
Kekerasan nonfisik adalah tindakan yang bertujuan merendahkan citra atau kepercayaan diri seseorang perempuan, baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang tidak disukai oleh korbannya.
Tindakan kekerasan terhadap perempuan semakin hari semakin meningkat, untuk itu bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan yang paling sering bersinggungan dengan perempuan perlu memeberikan informasi, bimbingan, maupun konseling tentang kekerasan. Konseling yang harus diberikan tentang kekerasan terhdap perempuan adalah hal-hal seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam pacaran, kekerasan dalam rumah tangga serta bagaimana upayah mengatasi upayah kekerasan tersebut
Comments
Post a Comment